Senin, 03 Juni 2013

Menjadi Juara

Bu guru masuk kekelasku. Aku sedang mencoret-coret kertas yang tak terpakai di dalam laci mejaku. Pelajaran hari ini adalah Matematika. Yaps ! salah satu mata pelajaran yang tidak aku sukai.
“Anak-anak sekarang kita akan membahas tentang rumus phytagoras atau tripel phytagoras. Buka halaman 54.” Kata ibu berjilbab hijau. Atau biasa dipanggil ibu Dini.
“ibu, ada urusan sebentar. Kalian tunggu dan kerjakan latihan dulu ya.” Perintahnya
“Ya bu.” Kata murid 8.a serempak

Ah,males ngerjainnya. Ngerti juga nggak. Nyontek aja deh. Gumamku
“Hasan kamu nggak ngerjain,ta ?” tanya Eka
“Males. Aku nggak ngerti.” Jawabku
“Ih,kamu ini jangan males lah. Ntar kamu turun nilainya.” Katanya sambil meninggalkanku.
Bodo penting aku nggak bodoh di pelajaaran ini.

Bu Dini masuk kembali kekelas.
“Anak-anak gimana sudah belum latihannya ? kalau belum selesaikan di rumah. Waktu kita tak cukup kalau hanya digunakan untuk latihan saja.” Terang beliau
Kami pun menyimpan buku dan dikerjakan di rumah. Ibu Dini menerangkan tentang phytagoras phytagoras sedangkan aku hanya melamun saja sampai pelajaran selesai...


Sepulang sekolah aku diajak ibu ke toko buku. Tak sengaja aku melihat sebuah buku novel terbitan DAR! Mizan aku tertarik pada buku itu. Aku pinta ibu untuk membelikannya. Ibu pun menurutiku beliau membelikannya.
Aku tak sabar ingin membaca buku itu. Aku masuk ke dalam kamar dan membacanya.
Oleh : Mia Al-marfa’i
Dalam hati aku berkata pintar sekali orang itu dapat membuat novel ini kataku.
Aku ingin sekali menjadi seperti dia. Namun,bagiku itu tak mungkin karena prestasiku sangatlah rendah. Namun,aku akan berusaha agar menjadi sang juara.


Mulai sekarang dan seterusnya aku harus belajar lebih giat lagi. Ku kerjakan pekerjaan rumah dengan tekun. Dan kucoba untuk menyukai guru-gurunya. Dan kukurangi smsan dengan teman-teman. Alhamdulillah nilaiku bertambah tinggi. Aku sangat senang dan aku bersyukur pada Allah.
Ulangan semester II pun telah didepan mata. Aku optimis insyaallah aku bisa mengerjakannya.
Matpelnya hari ini Bahasa Indonesia dan Agama. Aku baca so’al dengan teliti dan aku isi lembar jawaban menggunakan pensil.
Selama seminggu ulangan semester telah selesai. Dan menunggu hasilnya.

Hari ini class meeting,banyak lomba yang diadakan. Aku salah satu panita lomba tari daerah.
“Hey,kira-kira siapa yang akan menduduki juara 1 lagi ya ?” kata Dinda
“Ehm,kukira tetap Nanda deh. Soalnya dia itu pintar banget. Jagonya Fisika.” Ujar Fenti
“Yah,mereka emang pintar coba aku jadi dia mungkin aku bisa membanggakan ortuku.” Kata Mia sambil memakan ice cream.
“Ga, pasti Tian. Soalnya dia jago matematika dan biologi.” Ujar Asep
“Ah, kalo aku mah dukung Oki. Dia pintar dan juga sopan santunnya bagus.” Kata Wina nggak mau ngalah. Soalnya Oki adalah kejarannya dari kelas 7, wajar dukung Oki terus.
Aku diam saja. Aku berdo’a semoga aku bisa mengalahkan 3 pesaingku itu. Aku memang dulu mempunyai prestasi sewaktu kelas 7. namun, ntah tiba-tiba hilang kemana dia.

Waktu pembagian rapor telah tiba. Aku tak sabar ingin melihat hasilku yang selama ini aku lakukan dengan ikhlas. Semoga memuaskan “pikirku”.

Pak Handri memasuki lapangan dan membuka upacara kenaikan bendera. Hari itu tepat bertepatan dengan hari senin. Jadi sekalian pembagian rapor juga menaikan sang merah putih.
“Baiklah akan saya sebutkan juara-juara kelas. Saya mulai dari kelas 7.” Kata pak Handri

Semua murid terlihat tegang termasuk aku. Adik kelasku telah disebutkan siapa juara kelasnya. Sekarang giliran kelas 8.1 jantungku deg-degkan saat mendengarnya.
“Juara 3 diraih oleh : Septian Praja Pradana dengan jumlah nilai 932. juara 2 di raih oleh : Malik riski anugerah. Juara pertama diraih oleh..........
Jantungku bertambah kuat memompa dan saat mendengar kata
Adalah ...... Hasanudin... sorak sorai tepuk tangan berkumpul ditelingaku. Aku tak menyangka aku dapat rangking 1. terima kasih Ya Allah...
Teman-temanku mengucapkan selamat padaku. Termasuk Oki yang sang juara juga mengucapkan selamat padaku.
“Terimakasih teman-teman.” Kataku


Kulangkahkan kaki ku dengan riang. Aku tak sabar ingin memberitahukan ini kepada Ibu dan Bapak. Aku pun langsung masuk kedalam rumah dan menyalami orangtuaku,
“Ibu,Bapak, aku punya kejutan.” Kataku
“Apa itu,sayang ?” tanya Ibu
“Ibu, alhamdulillah aku dapet ranking satu.” Kataku
Ibu dan bapak mengucapkan selamat dan memelukku. Aku senang sekali. Aku akan terus giat belajar. Walaupun begitu aku tak boleh sombong. Aku harus belajar walaupun aku menjadi juara 1.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar