Rabu, 26 Maret 2014

Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, alumunium, tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanaskan akan bertambah panjang. Biasanya penalaran induktif ini disusun berdasarkan pengetahuan yang dianut oleh penganut empirisme.
Contoh penalaran induktif adalah :kerbau punya mata. anjing punya mata. kucing punya mata:. setiap hewan punya matapenalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistik.
Selanjutnya pengertian penalaran induktif menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007 :14) istilah penalaran mengandung tiga pengertian, diantaranya :
1. cara (hal) menggunakan nalar, pemikiran atau cara berfikir logis.
2. Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.
3. Proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.
Jenis – jenis penalaran induktif yaitu :
1. Generalisasi yaitu proses penalaran dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data.
Contoh :
Hasil UTS mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 3EA06 telah keluar. Ternyata dari 40 mahasiswa hanya 10 orang yang mendapat nilai 90. Setengahnya mendapat nilai antara 80 – 65 dan tidak ada seorang pun yang mendapat nilai di bawah 65. Itu berarti dapat disimpulkan bahwa mahasiswa kelas 3EA06 cukup pintar dalam mengerjakan soal Bahasa Indonesia.
Macam – macam generalisasi :
a. Generalisasi sempurna yaitu generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan penyelidikan. Contoh : sensus penduduk
b. Generalisasi tidak sempurna yaitu generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Generalisasi ini dapat menghasilkan kebenaran bila melalui pengujian yang benar.
2. Analogi yaitu cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang memilki sifat yang sama.
Contoh :
Danih adalah seorang altlet lari kebanggaan Indonesia. Setiap hari dia selalu berlatih keras untuk meningkatkan kemampuan berlarinya. Demikian juga dengan Sandy, dia merupakan seorang polisi yang memerlukan fisik yang kuat untuk menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum. Keduanya membutuhkan mental dan fisik yang kuat untuk bertanding atau mambantu masyarakat melawan kejahatan. Oleh karena itu, untuk menjadi atlet dan polisi harus memilki mental dan fisik yang kuat dengan cara selalu berlatih.
3. Hubungan kausal yaitu penalaran yang diperoleh dari gejala – gejala yang saling berhubungan.
Contoh :
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan emas memuai
Macam – macam hubungan kausal :
a. Sebab - akibat
Contoh :
Sejumlah pengusaha angkutan di Bantul terpaksa gulung tikar karena pendapatan yang mereka peroleh tidak bisa menutup biaya operasional. Minimnya pendapatan karena sebagian besar penumpang membayar ongkos dibawah ketentuan tarif yang sudah ditetapkan, akibat ketidakmampuan ekonomi. (Sumber : Kompas, 10 Mei 2008).
b. Akibat -sebab
Contoh :
Andi mendapat nilai yang memuaskan pada ujian semester kenaikan kelas. Dia mendapat rangking pertama di kelasnya. Hasil yang diperoleh Andi ini dia dapatkan karena belajar yang sangat tekun setiap harinya.
c Akibat – akibat
Contoh :
Kemarin Lusi mengalami kecelakaan akibat menabrak pembatas jalan. Akibat dari kecelakaan tersebut dia mengalami patah kaki dan harus dirawat di rumah sakit.
Hipotesis dan Teori
Sebuah teori adalah prinsip mapan yang telah dikembangkan untuk menjelaskan beberapa aspek dari suatu pengetahuan. Sebuah teori muncul dari pengamatan dan pengujian berulang dengan menggabungkan fakta, hukum, prediksi, dan hipotesis yang diterima secara luas.
Suatu hipotesis sifatnya spesifik dan prediktif, membahas tentang apa yang Anda harapkan akan terjadi dalam penelitian Anda. Sebagai contoh, sebuah penelitian untuk melihat hubungan antara kebiasaan belajar dan kecemasan mungkin memiliki hipotesis yang menyatakan, "Kami memperkirakan bahwa siswa dengan kebiasaan belajar yang lebih baik tidak mengalami banyak kecemasan." Jika sebuah studi membahas tentang eksplorasi alam, hipotesisnya harus selalu menjelaskan apa yang diharapkan terjadi selama eksperimen atau penelitian.
Kedua istilah (teori dan hipotesis) kadang-kadang digunakan secara bergantian, namun perbedaan penting di antara keduanya meliputi:
Suatu teori memprediksi peristiwa secara umum, sedangkan hipotesis membuat prediksi spesifik tentang bagian tertentu suatu keadaan.
Suatu teori telah diuji secara luas dan diterima secara umum, sedangkan hipotesis adalah dugaan spekulatif yang belum diuji.


Sumber :


Minggu, 23 Maret 2014

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Faktor – faktor penalaran deduktif :
1. Pembentukan Teori
2. Hipotesis
3. Definisi Operasional
4. Instrumen
5. Operasionalisasi
Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu:

1. Silogisme Kategorial
Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya Menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Rumus :
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus : Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Contoh :
1) Semua buruh adalah manusia pekerja
(2) Semua tukang batu adalah buruh
(3) Jadi, semua tukang batu adalah manusia pekerja.
Kaedah- kaedah dalam silogisme kategorial adalah :
1. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan
3. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negative.
5. Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7. Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
8. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

2. Silogisme Hipotesis
Silogisme Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Menurut Parera (1991: 131) Silogisme hipotesis terdiri atas premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Akan tetapi premis mayor bersifat hipotesis atau pengadaian dengan “ jika …” konklusi tertentu itu terjadi, maka kondisi yang lain akan menyusul terjadi. Premis minor menyatakan kondisi pertama terjadi atau tidak terjadi.
Konditional hipotesis : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.

3. Silogisme Alternatif
Silogisme Alternatif : Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Sedangkan proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.
Atau
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.

4. Entimen
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan .
Entimen atau Enthymeme berasal dari bahasa Yunani “en” artinya di dalam dan “thymos” artinya pikiran adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem, penghilangan bagian dari argumen karena diasumsikan dalam penggunaan yang lebih luas, istilah "enthymeme" kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan argumen yang tidak lengkap dari bentuk selain silogisme.
Menurut Aristoteles yang ditulis dalam Retorika, sebuah "retorik silogisme" adalah bertujuan untuk pembujukan yang berdasarkan kemungkinan komunikan berpendapat sedangkan teknik bertujuan untuk pada demonstrasi. Kata lainnya, entimem merupakan silogisme yang diperpendek.

5. Rantai Deduksi
Penalaran yang deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimem. Orang tidak berhenti pada sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula berupa merangkaikan beberapa bentuk silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.
Contoh :
a. Semua plecing kangkung pedas rasanya. (hasil generalisasi)
Kali ini saya diberi lagi plecing kangkung.
Sebab itu, plecing kangkung ini juga pasti pedas rasanya. (deduksi)
Saya tidak suka akan makanan yang pedas rasanya. (induksi: generlisasi)
Ini adalah plecing kangkung pedas.
Sebab itu, saya tidak suka plecing kangkung ini. (deduksi)
Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya senangi (induksi:generalisasi)
Saya tidak suka makanan ini.
Sebab itu saya tidak memakannya. (deduksi)
b. Semua jamu pahit rasanya. (hasil generalisasi)
Kali ini saya diberi lagi jamu.
Sebab itu, jamu ini juga pasti pahit rasanya. (deduksi)
Saya tidak suka akan minuman yang pahit rasanya. (induksi: generlisasi)
Ini adalah jamu pahit.
Sebab itu, saya tidak suka jamu ini. (deduksi)
Saya tidak suka minum apa saja, yang tidak saya senangi (induksi:generalisasi)
Saya tidak suka minuman ini.
Sebab itu saya tidak meminumnya. (deduksi)


Sumber :


Senin, 17 Maret 2014

(Bahasa Indonesia 2) PENALARAN


Penalaran
Adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengankonklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi

Proposisi
Adalah kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Dengan kata lain, Proposisi sebagai pernyataan yang di dalamnya manusia mengakui atau mengingkari sesuatu tentang sesuatu yang lain.
Inferensi merupakan suatu proses untuk menghasilkan informasi  dari  fakta  yang  diketahui.  Inferensi  adalah  konklusi  logis  atau  implikasi berdasarkan informasi yang tersedia. Dalam sistem pakar,  proses inferensi dilakukan dalam suatu modul yang disebut inference  engine. Ketika representasi pengetahaun pada bagian knowledge base  telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada level yang cukup  akurat, maka representasi pengetahuan tersebut telah siap digunakan.
Inferensi atau kesimpulan sering harus dibuat sendiri oleh pendengar atau pembicara karena dia tidak mengetahui apa makna yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh pembicara/penulis.

Wujud Evidensi
Merupakan semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas yang dihubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh digabung dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan atau penegasan. Dalam wujud yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu.
Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
Cara menguji data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap di gunakan sebagai evidensi. Di bawah ini beberapa cara yang dapat di gunakan untuk pengujian tersebut.
a.Observasi
b.Kesaksian
c.Autoritas

Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penelitian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
a.Konsistensi
b.Koherensi

Cara memilih autoritas
Meminta pendapat dari suatu autoritas, yakini pendapat dari seorang para ahli atau mereka yang telah menyelidiki suatu data dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua fakata kemudian memberikan pendapat mereka sesuai keahlian mereka di bidang masing-masing.




http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
freezcha.wordpress.com/2010/04/17/proposisi/‎
http://abdulrazak11.blogspot.com/2013/03/penalaran-evidensi-inferensi.html



Rabu, 22 Januari 2014

Outline Penulisan

KOMUNIKASI NON VERBAL




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Menurut Ray L. Birdwhistell, 65% dari komunikasa tatap-muka adalah non verbal, sementara menurut Albert Mehrabian, 93% dari semua makna social dalam komunikasi tatap muka diperoleh dari isyarat-isyarat non verbal. Komunikasi non verbal ialah menyampaikan arti (pesan) yang meliputi ketidak hadiran simbol-simbol suara atau perwujudan suara.
Perilaku non verbal kita terima sebagai suatu “paket” siap pakai dari lingkungan sosial kita. Kita tidak pernah mempersoalkan mengapa kita harus memberi isyarat begini untuk mengatakan suatu hal atau isyarat begitu untuk mengatakan hal lain. Bila seseorang  bertanya, mengapa umumnya bangsa Barat berjabatan tangan ketika bertemu, ia mungkin diberi jawaban mengenai zaman ketika orang menggunakan pedang dan bagaimana orang mengulurkan tangan kanan kosong kepada tamu untuk menunjukkan keramahan.
Kita dapat mengklasifikasikan pesan-pesan non verbal ini dengan berbagai cara. Jurgen Ruesch mengklasifikasikan isyarat non verbal menjadi 3 bagian. Pertama, bahasa tanda; kedua, bahasa tindakan; dan ketiga bahasa objek.
Meskipun tidak menggunakan pengkatagorian di atas, kita akan membahas berbagai jenis pesan non verbal yang kita anggap penting. Salah satunya adalah gerakan tubuh atau perilaku kinetik.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Bahasa Tubuh
Setiap anggota tubuh seperti wajah, tangan, kepala, kaki, dan bahkan tubuh secara keseluruhan dapat digunakan sebagai isyarat simbolik, diantaranya adalah sebagai berikut :
2.1.1 Kontak Mata
Kontak membantu kita memantau efek komunikasi antar pribadi. Melalui kontak mata kita dapat menceritakan kepada orang lain suatu pesan sehingga orang akan memperhatikan kata demi kata melalui tatapan. Seperti pandangan yang sayu, cemas, takut, terharu, dapat mewarnai latar belakang psikologis kita. Kontak mata sebagai symbol komunikasi non verbal mempengaruhi perilaku, kepercayaan dalam komunikasi.
2.1.2 Ekspresi Wajah
Ekspresi wajah meliputi pengaruh raut wajah yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara emosional. Wajah setiap orang selalu menyatakan hati dan perasaanya. Wajah ibarat cermin dari pikiran, dan perasaan.
Ekspresi wajah dapat kita lihat ketika kita memandang orang polos/lugu atau dingin/kejam. Hal ini didasari oleh sebuah ekspresi wajah yang nampak pada orang yang bersangkutan tidak menunjukan sebuah perubahan seperti yang dilakukan oleh orang lain ketika mendengar atau mengetahui suatu peristiwa baik kesedihan maupun kegembiraan.
2.1.3 Gestures
Gestures merupakan bentuk perilaku nonverbal pada gerakan tangan, bahu, dan jari-jari. Kita sering menggunakan anggota tubuh kita secara sadar maupun tidak sadar untuk memberikan sebuah pesan.
2.1.4 Penggunaan Gerakan Tubuh
Mungkin  anda  juga  perlu  mengetahui  dan  mengerti  bagaimana  gerak  tubuh dipergunakan  dalam  komunikasi  nonverbal.

2.2 Emblem
Emblem  merupakan  terjemahan  pesan  nonverbal  yang  melukiskan  suatu  makna bagi  suatu  kelompok  social.

2.3 Ilustrator
Ilustrator  merupakan  tanda-tanda  nonverbal  dalam  komunikasi. Tanda ini merupakan  gerakan  anggota  tubuh  yang  menjelaskan  atau  menunjukkan  contoh  sesuatu.
Ada beberapa bentuk dalam ilustrator, diantaranya :
2.3.1 Ideographs
adalah  gerakan  yang  membuat  peta  atau  mengarahkan  pikiran. Dengan demikian penampilan  wajah  sangat  bergantung  terhadap  orang  yang  menanggapinya.

2.3.2 Adaptor
Adaptor  merup akan  gerakan  anggota  tubuh  yang  bersifat  spesifik. Pada mulanya gerakan  ini  berfungsi  untuk  menyebarkan  atau  membagi  ketegangan  anggota  tubuh, misalnya meliuk-liukan tubuh, memulas tubuh, menggaruk kepala, loncatan kaki.

2.3.3 Regulator
Regulator  adalah  gerakan  yang  berfungsi mengarahkan,  mengawasi,  mengkoordinasi, interaksi  dengan  seksama.  Sebagai  contoh,  kita  menggunakan  kontak  mata  sebagai  tanda untuk  memperhatikan  orang  lain  yang  sedang  berbicara  dan  mendengarkan  orang  lain.

BAB 3
KESIMPULAN & SARAN

Banyak interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam masyarakat yang berwujud non verbal. Komunikasi non verbal ialah menyampaikan pesan yang meliputi ketidakhadiran symbol-simbol suara atau perwujudan suara. Salah  satu  komunikasi  non  verbal  ialah  gerakan  tubuh  atau  perilaku  kinetic.

Demikian yang hanya dapat penulis sampaikan. Mungkin masih banyak kekurangan dan kelemahan karena kurangnya pengetahuan. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman bisa memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.




 Sumber : diambil dari berbagai sumber.












Selasa, 19 November 2013

AL QUR’AN SEBAGAI SUMBER FILOSOFI BAGI SAINS

Kesadaran bukanlah entitas yang bersifat material. Karena itu, tidak bisa dipegang. Tidak bisa difoto ataupun divideo. Tidak bisa didengar. Tidak bisa dikecap. Pendek kata tidak bisa dijangkau oleh panca indera. Sehingga, sains yang bersifat materialistik memang sudah tidak mampu lagi untuk memahaminya. Tapi, apakah karenanya, entitas kesadaran itu tidak ada? Tentu saja berlebihan kalau ada orang yang berpendapat seperti itu. Sains bukanlah segala-galanya. Terlalu banyak realitas alam semesta yang tidak bisa diungkap dengan sains. Sehingga, menjadi konyol kalau kita memutlakkan sains sebagai satu-satunya ukuran bagi eksistensi segala peristiwa.Yang kalau tidak terukur oleh sains lantas kita katakan sesuatu itu tidak ada.

Kesadaran juga bukanlah energi. Meskipun ia bisa memicu munculnya energi. Atau, setidak-tidaknya menyebabkan energi berdinamika. Misalnya, dengan kesadaran yang kita miliki, kita lantas bisa menggerakkan tangan, kaki, mata, dan seluruh anggota tubuh. Ada energi yang menggerakkan anggota tubuh, berdasar perintah kesadaran. Jika kesadaran kita itu tidak berkehendak, maka energi tubuh kita pun tetap diam alias tidak berdinamika. Energi itu bisa saja berbentuk energi kimia, atau mekanik, atau elektrik, ataupun energi potensial apa pun. Tapi intinya, kesadaran bukanlah energi, dan energi bukanlah kesadaran.

Kesadaran juga bukanlah ruang ataupun waktu. Karena, kedua variabel ini pun bersifat mati. Kesadaran adalah sistem informasi yang memiliki kecerdasan, dan hidup. Saya perlu menegaskan hal ini, karena rupanya masih ada yang terjebak dengan kesimpulan yang kurang tepat, yang menganggap energi itu hidup. Dan bisa memerintah diri sendiri, serta memiliki kehendak, dan tujuan. Saya kira, perlu dilakukan perenungan lebih jernih tentang variabel-variabel alam semesta terkait dengan apa yang disebut sebagai makhluk hidup. Karena keempat variabel itu - materi, energi, ruang & waktu – sampai kapan pun, tidak akan bisa menghasilkan makhluk hidup yang berkehendak dan memiliki kecerdasan. Kecuali diintervensi oleh ‘Sesuatu’ dari luar variabel, yang memiliki Kehendak dan Kecerdasan.

Kalaupun mau dibahas secara saintifik, atau setidak-tidaknya menggunakan terminologi sains, persoalan ruh dan jiwa itu tidak cocok dibahas hanya dengan ilmu Kimia, Fisika, Matematika, dan Biologi yang materialistik. Yang agak sesuai dengan wilayah ruh dan jiwa itu adalah Psikiatri. Tetapi sayangnya oleh sebagian orang yang mengklain dirinya saintis, Psikiatri ini dianggap sebagai ‘sains abal-abal’ alias pseudo science, karena pembahasannya tidak sepenuhnya obyektif, melainkan sudah melibatkan subyektivitas.

Seorang Sahabat saya – Prof Dr dr SuhartonoTaat Putra MS – yang ahli Psycho Neuro Imunology, mengatakan bahwa ilmu pengetahuan manusia tentang makhluk hidup di masa depan akan menjadi sedemikian kompleksnya. Melebihi kerumitan memahami penciptaan alam semesta yang obyektif. Jika untuk memahami alam semesta kita membutuhkan Astrofisika, Astrokimia, Astromatematika, dan sebagainya, maka untuk memahami manusia itu kita tidak hanya membutuhkan Biokimia, Biofisika, Biologi, dan Biokuantum yang masih di wilayah obyektif, melainkan harus memasuki wilayah yang subyektif. Karena ternyata, seluruh proses yang bersifat Biokimia, Biofisika dan Biokuantum itu hanya merupakan akibat saja dari dinamika ‘sesuatu’ yang sangat subyektif di dalam diri manusia.

Selain Psikiatri, sains modern yang agak mendekati wilayah ruh dan jiwa itu adalah teori informasi. Dimana dewasa ini, peradaban sedang ‘dikuasai’ oleh bidang ini. Materi dan energi tidak lagi menjadi 'aktor utama' dalam ilmu ini. Ia hanya menjadi alat alias media saja. Kalau kita bicara soal handphone misalnya, yang kita bahas tidak lagi bahannya apa. Atau, baterainya apa. Melainkan fitur-fitur informasinya.

Bicara tentang ruh dan jiwa, tidak lagi bicara soal materi dan energi, melaikan bicara soal fitur-fitur informasi yang ada di dalamnya. Karena itu, jangan terjebak pada memahami ruh dan jiwa sebagai entitas energi. Karena energi hanya menjadi media bagi jiwa untuk menyalurkan informasi yang sinyalnya berasal dari ruh.

Ibarat handphone, sistem informasi itu tidak bisa mewujud dengan sendirinya tanpa ada sosok gadget dan tanpa ada energi dari baterai.Tetapi, gadget yang sudah ada baterainya pun tidak akan bisa berfungsi jika tidak ada sistem informasinya. Memang, analogi ini tidak persis betul dengan manusia. Karena, dalam diri manusia, yang disebut kehidupan itu termasuk di dalam ‘fitur’ ruh. Di dalam ruh itu ada beragam sifat ketuhanan ataupun fitur kehidupan yang menghidupkan. Sedangkan pada handphone ‘kehidupan’ itu ada karena baterai.

Kalaupun mau dianalogikan secara lebih baik, energi listrik dan operating system itulah RUH. Software aplikasinya adalah JIWA. Sedangkan sosok gadget adalah TUBUH. Seluruh kendali atas fungsi handphone itu bergantung pada OS (Operating System), termasuk kendali on-off-nya. Tetapi fungsi-fungsi aplikasinya ada pada software aplikasi yang mewakili jiwa. Dimana software itu bisa di-upgrade ataupun di downgrade, sebagaimana jiwa manusia juga bisa dididik menjadi lebih baik ataupun dipengaruhi lingkungan untuk menjadi lebih buruk.

Nah, terkait dengan manusia, kesadaran itu bukanlah di sistem materi dan sistem energinya, melainkan di sistem informasi. Bahkan, masih perlu ditambahkan ‘sistem informasi yang hidup’. Itulah yang telah saya tulis di notes sebelum-sebelumnya – saat membahas ruh sebagai sistem informasi – tetapi rupanya belum tertangkap substansinya. Sehingga, masih ada yang berkutat pada sistem energi yang mati, padahal materi dan energi tak lebih hanya berfungsi sebagai media belaka.

Lebih jauh, sistem informasi ini bukan hanya berhenti di dalam diri manusia, karena sebagaimana telah kita bahas, alam semesta pun memiliki sistem informasi yang cerdas itu. Maka, terkait dengan pembahasan soal kesadaran ini, kita menangkap benang merahnya. Jika sistem informasi terkait dengan kesadaran, maka kesadaran itu sebenarnya tidak hanya berhenti di diri manusia. Melainkan juga dimiliki oleh alam semesta. Dan manusia, ataupun makhluk hidup hanya merupakan bagian saja dari ‘kesadaran semesta’.

Alam semesta adalah sistem informasi yang sangat canggih, ibarat dunia maya alias internet. Segala macam gadget berupa handphone, laptop, desktop, tablet, dan sebagainya adalah terminal-terminal dalam sistem informasi itu. Mereka bisa saling berhubungan lewat sistem informasi yang menjadi backbone dunia maya itu. Apakah sistem informasi dunia maya itu ada dengan sendirinya? Tentu saja tidak. Ada yang mengaturnya. Bahkan ada yang menciptakannya. Sekaligus mengendalikannya.

Sistem yang canggih itu, hanya media saja bagi ‘kecerdasan-kecerdasan’ yang ada di balik sistem materi dan energi yang terlibat di dalam beroperasinya internet. Semua bagian dari sistem itu adalah sesuatu yang mati, dan butuh ‘kecerdasan’ ataupun ‘kesadaran’ sehingga 'menghidupkan' media internet dengan lalu lintas informasi di dalamnya.

Alam semesta ini hanya menjadi media bagi lalu lintasnya informasi dari para pemilik kesadaran dan kecerdasan. Karena, semua variabel penyusun alam semesta ini memang tak lebih dari variabel mati belaka. Seluruh makhluk hidup di alam semesta ini tak lebih hanyalah ‘terminal-terminal’ kesadaran yang menggunakan media berupa ‘badan’ dengan fitur-fitur yang ada di dalam ‘jiwa’nya. Tetapi operating system harus sinkron dan terintegrasi dengan seluruh sistem informasi yang ada. Yang semua itu dikendalikan oleh Sang Pencipta seluruh sistem informasi yang sedang berjalan ini..!

'Perpindahan alam' dari satu gadget ke gadget lainnya, dari handphone ke laptop, ke tablet, ke smart phone, ke BB, ke PC, ke satelit, atau apa pun namanya, dan dimana pun lokasinya, tidak menjadi masalah selama ia sinkron dengan sistem informasi tersebut. Dalam skala kehidupan manusia, pindah dimensi dari alam dunia ke alam barzakh, atau pun ke alam akhirat tidak masalah, semua itu terintegrasi dalam sistem informasi yang memang bisa lintas dimensi sebagaimana telah saya jelaskan di note sebelumnya.

Ringkas kata, seluruh alam semesta sebenarnya adalah sistem informasi terintegrasi yangserver-nya ada  di sisi-Nya, sedangkan terminal-terminalnya tersebar di seluruh penjuru alam semesta. Seluruh kejadian di mana pun bakal terekam dan masuk ke server itu, disamping juga terekam oleh terminal-terminal informasi yang saling berinteraksi. Tetapi, yang perlu Anda catat, bahwa semua lalu lintas informasi itu tidak akan terjadi jika tidak ada sosok-sosok ‘berkecerdasan’ dan ‘berkesadaran’ yang berkehendak untuk melakukan komunikasi. Karena sesungguhnya, semua ini cuma manifestasi dari Zat yang Maha Cerdas dan Maha Berkehendak..!

QS. Al An’am (6): 59
Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang terjadi di daratan dan di lautan. Dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Dan tidak jatuh sebutir biji pundi dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkansemuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)"

Wallahu a’lam bissawab


Setelah diedit :

Kesadaran bukanlah entitas yang bersifat material. Karena itu, tidak bisa dipegang. Tidak bisa difoto ataupun divideo. Tidak bisa didengar. Tidak bisa dikecap. Singkatnya tidak bisa dijangkau oleh panca indera. Sehingga, sains yang bersifat materialistik memang sudah tidak mampu lagi untuk memahaminya. Tetapi, apakah karenanya, entitas kesadaran itu tidak ada? Tentu saja berlebihan jika ada orang yang berpendapat seperti itu. Sains bukanlah segala-galanya. Terlalu banyak realitas alam semesta yang tidak bisa diungkap dengan sains. Sehingga, menjadi konyol kalau kita memutlakkan sains sebagai satu-satunya ukuran bagi eksistensi segala peristiwa. Seandainya tidak terukur oleh sains lantas kita katakan sesuatu itu tidak ada.

Kesadaran juga bukanlah energi. Meskipun ia bisa memicu munculnya energi. Atau, setidak-tidaknya menyebabkan energi berdinamika. Misalnya, dengan kesadaran yang kita miliki, kita lantas bisa menggerakkan tangan, kaki, mata, dan seluruh anggota tubuh. Ada energi yang menggerakkan anggota tubuh, berdasar perintah kesadaran. Jika kesadaran kita itu tidak berkehendak, maka energi tubuh kita pun tetap diam alias tidak berdinamika. Energi itu bisa saja berbentuk energi kimia, mekanik, elektrik, ataupun energi potensial apapun. Intinya, kesadaran bukanlah energi, dan energi bukanlah kesadaran.

Kesadaran juga bukanlah ruang ataupun waktu. Karena, kedua variabel ini pun bersifat mati. Kesadaran adalah sistem informasi yang memiliki kecerdasan, dan hidup. Saya perlu menegaskan hal ini, ternyata masih ada yang terjebak dengan kesimpulan yang kurang tepat, yang menganggap energi itu hidup yang bisa memerintah diri sendiri, serta memiliki kehendak, dan tujuan. Pendapat saya, perlu dilakukan perenungan lebih jernih tentang variabel-variabel alam semesta terkait dengan apa yang disebut sebagai makhluk hidup. Karena keempat variabel itu - materi, energi, ruang & waktu – sampai kapan pun, tidak akan bisa menghasilkan makhluk hidup yang berkehendak dan memiliki kecerdasan. Kecuali diintervensi oleh ‘Sesuatu’ dari luar variabel, yang memiliki Kehendak dan Kecerdasan.

Seandainya dibahas secara saintifik, atau setidak-tidaknya menggunakan terminologi sains, persoalan ruh dan jiwa itu tidak cocok dibahas hanya dengan ilmu Kimia, Fisika, Matematika, dan Biologi yang materialistik. Mungkin yang sedikit sesuai dengan wilayah ruh dan jiwa itu adalah Psikiatri. Tetapi sayangnya oleh sebagian orang yang menyatakan dirinya saintis, Psikiatri ini dianggap sebagai ‘sains abal-abal’ alias pseudo science, karena pembahasannya tidak sepenuhnya obyektif, melainkan sudah melibatkan subyektivitas.

Seorang Sahabat saya – Prof Dr dr SuhartonoTaat Putra MS – yang ahli Psycho Neuro Imunology, mengatakan bahwa ilmu pengetahuan manusia tentang makhluk hidup di masa depan akan menjadi sedemikian kompleksnya. Melebihi kerumitan memahami penciptaan alam semesta yang obyektif. Jika untuk memahami alam semesta, kita membutuhkan Astrofisika, Astrokimia, Astromatematika, dan sebagainya, maka untuk memahami manusia itu kita tidak hanya membutuhkan Biokimia, Biofisika, Biologi, dan Biokuantum yang masih di wilayah obyektif, melainkan harus memasuki wilayah yang subyektif. Karena ternyata, seluruh proses yang bersifat Biokimia, Biofisika dan Biokuantum itu hanya merupakan akibat saja dari dinamika ‘sesuatu’ yang sangat subyektif di dalam diri manusia.

Selain Psikiatri, sains modern yang sedikit mendekati wilayah ruh dan jiwa itu adalah teori informasi. Dewasa ini, peradaban sedang ‘dikuasai’ oleh bidang ini. Materi dan energi tidak lagi menjadi 'aktor utama' dalam ilmu ini. Ia hanya menjadi media saja. Kalau kita bicara soal telepon genggam misalnya, yang kita bahas tidak lagi bahannya apa. Atau, baterainya apa. Melainkan fitur-fitur informasinya.

Bicara tentang ruh dan jiwa, tidak lagi bicara soal materi dan energi, melainkan bicara soal fitur-fitur informasi yang ada di dalamnya. Karena itu, jangan terjebak pada memahami ruh dan jiwa sebagai entitas energi. Karena energi hanya menjadi media bagi jiwa untuk menyalurkan informasi yang sinyalnya berasal dari ruh.

Ibarat telepon genggam, sistem informasi itu tidak bisa membentuk wujud dengan sendirinya tanpa ada sosok gadget dan tanpa ada energi dari baterai.Tetapi, gadget yang sudah ada baterainya pun tidak akan bisa berfungsi jika tidak ada sistem informasinya. Memang, analogi ini tidak persis betul dengan manusia. Karena, dalam diri manusia, yang disebut kehidupan itu termasuk di dalam ‘fitur’ ruh. Di dalam ruh itu ada beragam sifat ketuhanan ataupun fitur kehidupan yang menghidupkan. Sedangkan pada telepon genggam ‘kehidupan’ itu ada karena baterai.

Seandainya dianalogikan secara lebih baik, energi listrik dan operating system itulah RUH. Software aplikasinya adalah JIWA. Sedangkan sosok gadget adalah TUBUH. Seluruh kendali atas fungsi handphone itu bergantung pada OS (Operating System), termasuk kendali on-off-nya. Tetapi fungsi-fungsi aplikasinya ada pada software aplikasi yang mewakili jiwa. Dimana software itu bisa di-upgrade ataupun di downgrade, sebagaimana jiwa manusia juga bisa dididik menjadi lebih baik ataupun dipengaruhi lingkungan untuk menjadi lebih buruk.

Nah, terkait dengan manusia, kesadaran itu bukanlah di sistem materi dan sistem energinya, melainkan di sistem informasi. Bahkan, masih perlu ditambahkan ‘sistem informasi yang hidup’. Itulah yang telah saya tulis di catatan sebelum-sebelumnya – saat membahas ruh sebagai sistem informasi – tetapi ternyata belum tertangkap substansinya. Sehingga, masih ada yang berkutat pada sistem energi yang mati, padahal materi dan energi tak lebih hanya berfungsi sebagai media belaka.

Lebih jauh, sistem informasi ini bukan hanya berhenti di dalam diri manusia, karena sebagaimana telah kita bahas, alam semesta pun memiliki sistem informasi yang cerdas itu. Maka, terkait dengan pembahasan soal kesadaran ini, kita menangkap benang merahnya. Jika sistem informasi terkait dengan kesadaran, maka kesadaran itu sebenarnya tidak hanya berhenti di diri manusia. Melainkan juga dimiliki oleh alam semesta. Dan manusia, ataupun makhluk hidup hanya merupakan bagian saja dari ‘kesadaran semesta’.

Alam semesta adalah sistem informasi yang sangat canggih, ibarat dunia maya atau internet. Segala macam gadget berupa handphone, laptop, desktop, tablet, dan sebagainya adalah terminal-terminal dalam sistem informasi itu. Mereka bisa saling berhubungan lewat sistem informasi yang menjadi backbone dunia maya itu. Apakah sistem informasi dunia maya itu ada dengan sendirinya? Tentu saja tidak. Ada yang mengaturnya. Bahkan ada yang menciptakannya. Sekaligus mengendalikannya.

Sistem yang canggih itu, hanya media saja bagi ‘kecerdasan-kecerdasan’ yang ada di balik sistem materi dan energi yang terlibat di dalam beroperasinya internet. Semua bagian dari sistem itu adalah sesuatu yang mati, dan butuh ‘kecerdasan’ ataupun ‘kesadaran’ sehingga 'menghidupkan' media internet dengan lalu lintas informasi di dalamnya.

Alam semesta ini hanya menjadi media bagi lalu lintasnya informasi dari para pemilik kesadaran dan kecerdasan. Karena, semua variabel penyusun alam semesta ini memang tak lebih dari variabel mati belaka. Seluruh makhluk hidup di alam semesta ini tak lebih hanyalah ‘terminal-terminal’ kesadaran yang menggunakan media berupa ‘badan’ dengan fitur-fitur yang ada di dalam ‘jiwa’nya. Tetapi operating system harus sinkron dan terintegrasi dengan seluruh sistem informasi yang ada. Yang semua itu dikendalikan oleh Sang Pencipta seluruh sistem informasi yang sedang berjalan ini.

'Perpindahan alam' dari satu gadget ke gadget lainnya, dari telepon genggam ke laptop, ke tablet, ke smartphone, ke BB, ke PC, ke satelit, atau apapun namanya, dan dimana pun lokasinya, tidak menjadi masalah selama ia sinkron dengan sistem informasi tersebut. Dalam skala kehidupan manusia, pindah dimensi dari alam dunia ke alam barzakh, atau pun ke alam akhirat tidak masalah, semua itu terintegrasi dalam sistem informasi yang memang bisa lintas dimensi sebagaimana telah saya jelaskan di catatan sebelumnya.

Ringkas kata, seluruh alam semesta sebenarnya adalah sistem informasi terintegrasi yang server-nya ada  di sisi-Nya, sedangkan terminal-terminalnya tersebar di seluruh penjuru alam semesta. Seluruh kejadian di mana pun pasti terekam dan masuk ke server itu yang juga terekam oleh terminal-terminal informasi yang saling berinteraksi. Tetapi, yang perlu Anda catat, bahwa semua lalu lintas informasi itu tidak akan terjadi jika tidak ada sosok-sosok ‘berkecerdasan’ dan ‘berkesadaran’ yang berkehendak untuk melakukan komunikasi. Karena sesungguhnya, semua ini cuma manifestasi dari Zat yang Maha Cerdas dan Maha Berkehendak.

QS. Al An’am (6): 59
Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang terjadi di daratan dan di lautan. Dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Dan tidak jatuh sebutir biji pundi dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkansemuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)"